Selasa, 27 Desember 2016

Tanggapan Esai Ninik Hipayati(Rio Tri Astuti)

    Nama: Rio Tri Astuti
    Kelas : 3E PBSI
    NPM : 15410215   
Tanggapan Esai “Ninik Hidayati”
“JAKA TARUB dan MONOLOG BALADA SUMARAH”
       Tanggapan mengenai esai Ninik Hidayati tentang pertunjukan teater Universitas PGRI Semarang  yang mana teater tersebut mengangkat cerita rakyat Jawa Tengah yang sangat melegenda ya itu Jaka Tarub dan Monolog Balada yang berjudul Sumarah gadis cantik yang memiliki nasib sangat jelek .Cerita Jaka Tarub memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang menceritakan tentang kehidupan seorang laki-laki yang memiliki istri bidadari yang bernama Nawang Wulan dan putri semata wayangnya yang bernama Nawangsih. Sedangkan Sumarah merupakan gadis cantik yang berpendidikan akan tetapi memiliki latar belakang keluarga yang tidak yang baik namun sayang dimata tetangga dan dimata pemerintah Sumarah sangat di benci Karen mereka menganggap bahwa Sumarah merupakan anak dari seorang anggota PKI walaupun sebenarnya bukan bagian Dari anggota PKI karena ayah Sumarah hanya lah seorang penyetok gula untuk anggota PKI.
          Mengenai esai Ninik Hidayati yang berhubungan dengan pertunjukan teater, esai yang dibuat sudah sesuai dengan apa yang dilihat. Ninik sudah menjelaskan secara runtut dari pertama pertunjukan teater di mulai hingga akhir teater selesai. Yang mana dia juga menuliskan tanggapan Penonton dari pentas teater yang mana dihadiri oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,  dan  pelajar dari SMA 1 Bringsing Batang yang mana juga ikut berpartisipasi di dalam teater ini.
Bukan hanya itu saja Ninik Hidayati juga Sudan  menjelaskan tentang kondisi atau keadaan ruangan yang disiapkan oleh panitia pentas teater, dari keadaan lampu yang menyala yang mana terlihat sangat bagus baik dari background  kain yang  berwarna hitam dihiasi gambar bulan purnama dan pohon-pohon yang berdiri gagah. Ditambah lagi dengan rumah yang terbuat dari  bambu dan jerami seperti gubuk sawah. Dan juga lebih menarik memang karena  rumah tersebut sudah menggambarkan  tempat tinggal orang desa, lampu LID yang yang bagus untuk menambah suasana lebih kelihatan hidup. Iringan alunan musik Jawa menambah suasana lebih menarik dan penonton tidak jenuh. Selain itu Ninik juga menjelaskan tentang keadaan penonton yang terdiam sejenak menyaksikan pentas teater.
Selanjutnya Ninik juga menjelaskan tentang alur  cerita yang sesuai dengan cerita Jaka Tarub yang dipentaskan. Walaupun yang di pentaskan terdapat alur cerita yang berbeda dari cerita aslinya  yang mana dimulai dari kemunculan seorang laki-laki separuh baya sedang beristirahat di atas anyaman kayu tiba-tiba didatangi anak perempuannya. Secangkir air putih mampu melegakan pikiran laki-laki separuh baya dari sebuah rahasia. Tak terkecuali gadis remaja ini merasa penasaran. Laki-laki separuh baya masih mengenang masa mudanya karena anak perempuannya selalu bertanya. Awal cerita yang cukup menarik karena biasanya karakter tokoh Jaka Tarub disuguhkan langsung menjadi muda. Akan tetapi, dalam teater ini karakternya sudah disusun menjadi tua. Sedetail itu Ninik menceritakan ulang pementasan teater.
Tidak hanya awalnya saja esai yang dibuat Ninik juga menceritakan kelanjutan ceritanya yang mana ketika Jaka Tarub masih mudah dan saat dia di goda oleh  sahabatnya. Jaka Tarub dan temannya duduk bersantai di atas kursi bambu yang dianyam, dalam percakapannya Jaka  menceritakan mimpinya ingin mendapatkan istri seorang bidadari. Teman Jaka Tarub pun tertawa terbahak-bahak dengan apa yang di ceritakan oleh Jaka Tarub. Lalu kemudian teman Jaka Tarub tersebut menyanggah percakapan tersebut karena ia bilang kepada Jaka “Ora mungkin Jak, awake dewe kan wong ndeso arep entuk bojo bidadari kui jenenge ngimpi.” Jaka tidak menanggapi komentar dari teman desanya tersebut.

         Tak hanya itu kemudian  Ninik juga menceritakan apa yang selanjutnya di lakukan oleh Jaka yang mana Jaka Tarub bergegas pergi menuju suatu hutan untuk berniataan berburu. Namun tanpa disengaja dan jauh dari pemikirannya , dia dipertemukan dengan 7 perempuan yang  berperan sebagai bidadari. Bukan hanya itu saja Ninik juga menceritakan tentang menariknya panggung dan kekompakan para pemain tersebut. Panggung yang disusun oleh panitia, yang mana disusun rapi menjadi tangga yang diibaratkan lantai paling atas yaitu kayangan dan lantai paling bawah  bumi. Serta kekompakan  mereka ketika ada salah satu yang berperan sebagai bidadari saat turun dari tangga ada yang terjatuh, para pemain teater bisa menutupi kecelakaan kecil tersebut, dengan membantu walaupun tidak ada dalam skenario naskah teater.
Bukan hanya sampai situ saja  Ninik juga masih menjelaskan tenang kelanjutan cerita  drama teater. Yang mana cerita selanjutnya yang menjadi khas yaitu selendang tersebut dikenakan para bidadari seolah-olah akan terbang. Penampilan, make-up, kostum, cara berbahasa, dan sikap diperankan ketujuh perempuan dengan maksimal agar  mendapat tanggapan yang baik dari penontonnya. Bidadari itu lalu masuk di sebuah kolam. Tempatnya seperti kolam yang dikelilingi batu-batuan dan diisi dengan sebuah plastik berwarna putih. Ada alasannya jika diberikan plastik berukuran besar berwarna putih. Artinya warna putih atau jernih merupakan ciri dari air itu sendiri. Sedangkan berukuran besar karena terdengar gemercik air yang diandaikan suara plastik. Sangat mendetail sekali ulasan esai yang di sampaikan oleh Ninik, dengan begitu esainya sangat lengkap. Bukan hanya sampai situ saja Ninik juga menjelaskan kelanjutan ceritanya.
Jaka Tarub ternyata bersembunyi  di belakang batu besar untuk mengintip apa yang dilakukan oleh para bidadari dan bertujuan untuk mengambil selendangnya. Dari salah satu  7 bidadari memang benar kehilangan selendangnya. Bidadari tersebut bernama Nawang Wulan yang mana dalam cerita tersebut bidadari tersebut  kebingungan dan sedih , karena  dia tidak  bisa pulang dan saudaranya pun meninggalkan Nawang Wulan sendirian walaupun adik-adiknya merasa kasihan , karena mereka sudah mencarinya tetapi tidak ditemukan. Dengan besar hati terpaksa Nawang meminta kepada adik-adiknya untuk segera kembali ke kayangan.
Kemudian di sungai itu Nawang begitu bersedih, bingung apa yang harus ia lakukan. Nawang membuat sebuah sayembara. Tidak lama kemudian Jaka menemui Nawang yang masih berendam di dalam sungai. Jaka lalu berupaya untuk memberi pakaian agar segera dikenakan Nawang Wulan. Mereka lalu berbincang-bincang, akhirnya Jaka menagih sebuah sayembara yang didengarnya. Nawang Wulan menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka Tarub.
Ninik juga menceritakan sambungan cerita yang mana di dalam cerita sebenarnya tidak ada dia tokoh ini tidak ada namun ini di tunjukan ke penonton untuk ceritanya lebih menarik. Dua tokoh tersebut yang bernama Topo dan Tomo. Dua laki-laki itu  tiba-tiba mencalonkan  diri sebagai lurah. Kemunculan mereka berdua membuat penonton semakin ramai dengan lawakannya. Mangkin kehadiran mereka berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang sedang hamil. Kisah tersebut kembali berproses ketika anaknya ditinggal ibunya ke kayangan akibat kebohongan Jaka Tarub. Lalu berlanjut anak Jaka Tarub tumbuh menjadi remaja. Itu menurut esai yang dituliskan oleh Ninik Hidayati.
Serta Ninik juga menjelaksan Akhir cerita yang mana kembali ke akur cerita yang pertama yang mana  mengulang awal cerita ketika Jaka Tarub sudah separuh baya. Bahasa yang digunakan dalam teater ini ada dua bahasa yaitu Jawa dan Indonesia. Bahasa tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi ketika para pemeran berdialog sesuai lawan bicaranya.  Jadi dapat di simpulkan bahwa esai Ninik Hidayati sanggatlah sesuai dengan apa yang di pentaskan oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Bukan hanya itu saja Ninik juga menyampaikan pesan yang dapat di ambil dalam  pementasan teater drama Jaka Tarub.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar