Nama : Rio Tri Astuti
Kelas : 3E PBSI
NPM :15410215
ESAI
“JAKA TARUB”
Selasa (4/10), Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mementaskan Drama Jaka Tarub Dan Monolog Balada Sumarah di Gedung Pusat lantai 7. Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi. Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub merupakan serial drama yang menceritakan tentang hidup seorang laki-laki muda yang di tinggal mati oleh Ibu kandungnya. Saat bulan purnama yang mana Jaka Tarub saat tiduran di bangku rumah, Jaka Tarub bermimpi tentang masa lalunya, Jaka Tarub berteriak dan Nawangsih pun mendengar suara ayahnya yang terdengar sangat kencang. Jaka Tarub di tanya oleh Nawangsih putri semata wayangnya, Nawangsih pun juga bertanya kapan dia bertemu dengan ibunya. Jaka Tarub pun menceritakan tentang istrinya.
Pada zaman dahulu Jaka Tarub saat usianya masih muda Jaka Tarub sangat kebingungan karena ia di beri amanah yang lumayan besar oleh Ibunya, yang mana amanatnya adalah ia harus menikah dengan seorang bidadari itulah salah satu pesan yang sangat menjadi beban Jaka Tarub. Namun karena amanat yang mungkin di anggap konyol tersebut, Jaka Tarub di ejek oleh temanya yaitu kang Bono. Kang Bono berpendapat ke Jaka Tarub bahwa amanah ibunya itu sanggatlah konyol karena tidak akan mungkin ada Bidadari, karena semua itu hanya ada di dalam dunia khayal. Akan tetapi Jaka Tarub masih pusing dengan masalah itu karena dia juga berfikir apakah semua pesan ibunya itu bakal terwujud karena menikah dengan seorang bidadari hanya ada dalam dongeng semata, karena itu Jaka Tarub memutuskan untuk berburu ke hutan.
Akan tapi entah apa yang terjadi Jaka Tarub bisa melihat 7 bidadari yang sangat cantik-cantik, yang turun dari langit Jaka Tarub sangat terkejut karena bidadari yang mungkin hanya ada dalam khayalan semata namun kini menjadi kenyataan. Jaka Tarub sangat bahagia melihat bidadari cantik-cantik yang lagi mandi di sungai itu, Jaka Tarub mengintip bidadari yang lagi mandi itu, Jaka Tarub juga memiliki pikiran untuk mengambil selendang yang di miliki oleh salah satu bidadari yang sangat cantik-cantik itu. Selang beberapa lama bidadari Cantik itu berniataan untuk menyudahi mandinya karena matahari sudah menujukan mulai terbenam, bidadari cantik-cantik itu lalu naik ke atas sungai untuk mengambil pakaiannya dan berganti pakaian serta memakai selendangnya untuk kembali ke kayangan. Akan tetapi karena Jaka Tarub sudah mengambil selendang dari salah satu bidadari Cantik itu. Dan akhirnya bidadari yang selendangnya di ambil oleh Jaka Tarub di tinggalkan oleh adik-adiknya, nama bidadari yang menjadi korban Jaka Tarub adalah Nawang Wulan. Dari 7 bidadari cantik-cantik itu Nawang Wulan merupakan bidadari urutan pertama.
Nawang Wulan pun bingung mau berbuat apa, karena dia sudah di tinggal oleh adik-adiknya. Nawang Wulan pun berjanji apabila ada seseorang yang menemukan selendang dan pakaiannya, apabila yang menemukan perempuan akan di jadikan saudara sedang kan apabila yang menemukan laki-laki akan di jadikan suaminya. Jaka Tarub yang bersembunyi di balik bebatuan dan semak-semak pun mendengar apa yang dibicarakan Nawang Wulan dan Jaka Tarub berlarian untuk pulang mengambil baju sepeninggalan Ibunya, yang mana Jaka Tarub berniataan membawa baju itu ke Sungai untuk di berikan ke Nawang Wulan dan menyuruh Nawang Wulan memakai pakaian yang berwarna hitam peninggalan Ibu Jaka Tarub tersebut. Jaka Tarub pun berlarian until kembali ke Sungai untuk menemui Nawang Wulan yang sendirian di sungai tersebut , Jaka Tarub menemui Nawang Wulan dan mengajak berbicara, Jaka Tarub bertanya ke Nawang Wulan,
Jaka Tarub:" siapa nama kamu dan apakah yang kamu bicarakan tadi itu benar..??"
Nawang Wulan:".. nama saya Nawang Wulan, iya saya akan penuhi janji saya..!! Kamu sendiri siapa dan kenapa kamu ada disini.?"
Jaka Tarub:" Nama saya Jaka Tarub, saya disini sedang berburu." Apa yang sedang kamu lakukan disini..??
Nawang Wulan: " saya Bidadari dan saya di tinggal oleh adik-adik saya, karena pakaian dan selendang saya hilang, jadi saya tidak bisa pulang ke Kayangan."
Jaka Tarub pun menyuruh Nawang Wulan untuk memakai pakaian sepeninggalan ibunya untuk di pakai Nawang Wulan. Nawang Wulan pun menerima tawaran Jaka Tarub untuk memakai pakaiannya, Jaka Tarub juga mengajak Nawang Wulan untuk pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sungai di tengah-tengah hutan tersebut. Jaka Tarub dan Nawang Wulan menikah.
Di desa tempat tinggal Jaka Tarub ada dua calon lurah yaitu bernama Topo dan Tomo, dua calon kepala desa ini memiliki karakter yang berbeda-beda Topo memiliki pemikiran yang lumayan lebih pintar dari Tomo akan tetapi Topo bersifat sombong. Sedangkan Tomo memiliki sifat yang sangat beda dengan Topo. Dua calon kepala desa ini memiliki postur badan yang hampir sama, sama-sama besar akan tetapi lebih besar Tomo dibandingkan Topo. Calon kepala desa ini sanggatlah lucu dalam caranya untuk mempromosikan sebagai calon kepala desa.
Satu tahun kemudian setalah menikah Nawang Wulan pun hamil, Jaka Tarub yang baru pulang dari ladang sangat bahagia saat melihat istrinya Nawang Wulan duduk di depan gubuk reot rumah Jaka Tarub, Jaka berharap anaknya untuk segera keluar dari perut istrinya itu, Jaka Tarub berencana memberi nama anaknya jikalau laki-laki Jaka Tarub ingin memberi nama Jaka Utama sedangkan jika anaknya perempuan ingin di beri nama Nawangsih, Nawang Wulan pun sangat menyukai usulan nama dari suaminya. Tak lama setelah Jaka Tarub dan Nawang Wulan masuk ke dalam rumah, Nawang pun merasakan rasa sakit perutnya karena bayi yang di dalam perutnya akan keluar. Jaka Tarub pun kebingungan akhirnya dia memanggil dukun bayi yang bernama mbok Ni, tak lama kemudian bayinya keluar dan berjenis kelamin perempuan dan seperti yang di rencanakan sebelumnya, nama anak Jaka Tarub yaitu Nawangsih.
Jaka Tarub Dan Nawang Wulan pun sangat bahagia, dengan bertambahnya anggota keluarga kecilnya. Jaka Tarub yang merasa kebingungan kenapa lumbung padi di rumahnya kian lama kian banyak bukan, malah habis. Karena cucian di rumahnya banyak Nawang Wulan pun pergi ke sungai Dan menitipkan Nawangsih ke Jaka Tarub, Nawang Wulan juga berpesan jika dia sedang menanak nasi dan jangan sampai dibuka, namun karena Jaka Tarub penasaran dengan pesan istrinya kenapa kok dia tidak boleh membuka panci. Jaka Tarub pun membuka Dan dia kebingungan kenapa hanya ada sebatang padi bukan nasi. Jaka tarub berniat untuk menanyakan ke istrinya, sesampainya di rumah Jaka Tarub bertanya ke istrinya tentang kenapa ia memasak sebatang padi bukan beras. Istrinya pun menjawab dengan marah, Nawang pun marah besar karena ulah suaminya. Nawang menjelaskan bahwa kenapa tidak beli beras, sebatang padi bisa menjadi nasi. Jaka Tarub pun menyesal karena ia tidak menepati janjinya serta ia lupa bahwa istrinya bukan manusia biasa melainkan seorang bidadari. Nawang Wulan pun masuk ke dalam rumah, dan tanpa sengaja selendang Nawang Wulan yang diambil Jaka Tarub di temukan oleh Nawang Wulan. Nawang Wulan pun marah besar dan Nawang kembali ke kayangan. Jaka Tarub pun tidak bisa apa-apa karena telan istrinya sudah bertekat bulat. Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub untuk di sampaikan kepada anaknya kelak, jika ingin bertemu Nawang Wulan maka, Nawangsih harus datang ke sungai dimalam saat bulan purnama. Maka Nawang sih akan bertemu ibunya.
Amanat yang di bisa diambil dalam drama cerita rakyat Jaka Tarub adalah. Jangan pernah berbohong walaupun kebohongan itu berniataan untuk hal kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, karena kebohongan sekecil apapun hasilnya akan menimpa diri kita sendiri. Dan menjadikan diri kita dijauhi oleh orang yang kita sayang, dan kita tidak mungkin di percaya oleh orang lain.
Minggu, 25 Desember 2016
Esai Jaka Tarub (Rio Tri Astuti)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar