Nama :Rio Tri Astuti
Kelas : 15410215
NPM : 3E PBSI
UPGRIS BERSASTRA
Bulan bahasa merupakan momen yang di tunggu-tunggu oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Bukan bahasa jatuh pada bulan Oktober lebih tepatnya pada tanggal28 Oktober, namun yang menjadi kebanggaanuntuk membuka peringatan bukan bahasa tersebutUniversitas PGRI Semarang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah,yang tidak kalah dengan perguruan tinggi Negeri, Tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menggelar acara yang sangat megah untuk menyambut bulan bahasa acara berlangsung di Balairung UPGRIS. UPGRIS menggelar acara di Balairung yang mana acara tersebut mengambil tema UPGRIS bersastra. Acara yang berlangsung sangat lah menakjubkan, salah satunya sastrawan muda Indonesia yaitu Triyanto Tri Wikromo. Acara yang berlangsungbertemakan UPGRIS Bersastra dengan 1 Pengarang 3 Buku, Pembaca, Kritikus.
Penyelenggara acara ini sangat istimewa, serial musik bicuittimeikut serta untuk menambah suasana acara lebih menarik. Acara di buka pukul 09.00 WIB di pandu oleh Ibu Diah,dan acara yang meriah ini di resmikan dan dibuka oleh Rektor UPGRIS Bapak Muhdi S.H.,M.Hum.cara sangat menarik dan spektakuler. Pembawa acara membuka acara dengan menyambut semua yang hadir di dalam balairung. Bukan Rektor saja semua Dosen juga ikut berpartisipasi di dalamnya khususnya Dosen FPBS.
Hiburan yang menari juga di tampilkan yaitu Tarian klasik satu pasangan Wanita dan laki-laki pun juga sangat menarik hati penonton, karena mereka menarikan dengan indah, romantis karena didukung dengan lampuleting yang bagus, penonton pun terhipnotis dengan apa yang di pentaskan oleh Mahasiswa dan Mahasiswi UPGRIS.
TujuhMahasiswi yang membacakan puisi dengan pelafalan dan nada pembacaan yang tidak jelas yang manapara penikmat tidak maksud dengan apa yang disampaikan. Karena saat pembacaan Dari awal sampai akhir pelafalannya sangat monoton dan menjadikan Mahasiswa dan Mahasiswi sibuk dan berisik dengan sendirinya karena membosankan.
Masih dengan suasana yang meriah, di tambah lagi dengan pembacaan puisi yang di tambah dengan tarian tradisional yang sangat meriah, tarian tersebut di tarikan oleh 4 penari Wanita Dan 1 penari laki-laki. Dalam pementasan pembacaan puisi dan tarian tradisional yang di sutradarai oleh Wawan Coret. Ibu Asrofah selaku Dekan UPGRIS juga memberikan selamat kepada Mahasiswa-Mahasiswi yang berani dan ikut berperan dalam acara UPGRIS Bersastra yang mana sudah menampilkan kreasi yang sangat menakjubkan
Acara yang berlangsung sangat lah meriah karena di hadiri oleh sang penyair puisi yang terkenal yaitu Triyanto Tri Wikromo, dia merupakan sosoksastrawan yang melegenda dan memiliki karya yang sudah dibukukan sangat banyak, beliau merupakan sang Maestro muda yang menjadi inspirasi para penikmat dan pengarang karya-karya sastra.
Memasuki acara inti yaitu Bedah Buku yang sangat ditunggu-tunggu. Langsung saja pemandu acara Ibu Diah memberikan waktu untuk Dr.Harjito S.Pd.,M.Pd. untuk memoderatori, Bedah Buku dihadiri oleh Bapak Nur Hidayat untuk kritikus satu, Bapak Prastyo Utomo untuk kritikus dua, dan Sastrawan Muda BapakWidyanuari Eko Putro. Tiga kritikus penting akan membahas tentang karya-karya yang di miliki oleh Triyanto Tri Wikromo sang maestro muda. Namun sebelum acara Bedah Buku dimulai Moderator memohon kepada Rektor UPGRIS untuk ikut menambahkan suasana menjadi ramai dengan menantang Bapak Muhdi untuk membacakan puisi karya Triyanto Tri Wokromo. Rektor UPGRIS membaca puisi dengan judul“Takziah”, namun demikian sebelum membacakan puisi, tidak di duga ternyata Rektor UPGRIS menunjukkan bakat terpendamnya yang mana dia pandai bermain alat musik Gitar, Rektor menyanyi dengan suara yang bagus Rektor berkata bahwa beliau mengenang dan bernostalgia akan masa lalunya saat duduk dibangku SMA ketika dia dan teman-temanya hobi bermain gitar.Melanjutkan pembacaan Puisinya Rektor membaca puisi yang Berjudul “Takziah” tersebut dengan lantang walaupun tidak begitu bagus. Rektor UPGRIS menjelaskan kenapa dia memilih Puisi karya Triyanto Tri Wikromo Dengan Judul “Takziah”, karena dia berpikiran bahwa akhir-akhir banyak orang meninggal dunia dengan mendadak. Beliau juga menceritakan tentang meninggalnya teman dekatnya, bahwa teman dekatnya tersebut meninggal dengan mendadak, dan dia juga berpesan untuk semua Mahasiswa dan Mahasiswi untuk selalu berbuat baik, karena Rizki, Jodoh dan Maut itu merupakan rahasia Tuhan. Tidak hannya Rektor saja, wakil Rektor 1 UPGRIS Ibu Suci pun turut andil dengan membaca puisi karya Triyanto Tri Wikromo dengan judul “Selir Panas” Sebelum membaca Ibu Suci memanggil Erda Mahasiswi Prodi PBI untuk menemaninya saat membacakan puisi.
Usai Rektor dan Wakil Rektor 1 menunjukkankebolehannya , Bapak Harjito selaku Moderator mempersilahkan Kritikus pertama untuk memulai acara inti yaitu Bapak Nur Hidayat, yang mama Pak Nur Hidayat mamenekankan jika hasil dari beberapa karya Bapak Triyanto memang sulit untuk di pahami apabila hanya membaca karaya Triybto Tri Wikromo dengan setengah-tengah saja. Karya sastranya menunjukkan tidak semua orang paham dengan apa yang ia tuliskan. Bapak Nur Hidayat menilai dengan adanya karya sastra Bapak Triyanto, kualitasnya begitu tinggi dan sulit.
Selanjutnya Kritikus yang kedua yaitu Bapak Prasetyo Utomo. Beliau berkomentar hampir sama dengan yang di komen oleh kritikus pertmaakan tetapi yang di kritik oleh kritikus keduan lebih menjurus ke cerpen karya Bapak Triyanto. Menurut Bapak Prasetyo, cerpen Triyanto juga sangat sulit dipahami oleh pembaca. Dalam penulisan cerpen Triyanto menggunakan teori struktualisme yaitu teori membaca yang membutuhkan metode-metode tertentu secara bertahap. Cerpen-cerpennya hampir serupa dengan Ismail yang menggunakan 3 unsur. 3 unsur tersebut yaitu tokoh, latar, dan alur. Sebagian cerpen Triyanto memiliki 3 unsur yang mewakilinya. Maka tidak heran jika karyanya setiap tahun selalu masuk di koran kompas. Hal ini terbukti ketika salah satu judul buku “Bersepeda ke Neraka” dipertaruhkan dalam ajang tertentu.
Selanjutnya kritikus ketiga yaitu Widyanuari Eko Putro yang lebih mengkritik dalam bidang puisi. Wiwid memang baru mengenal teks Bapak Triyanto tahun 2009 hingga saat ini. Ia pertama kali mendapat antologi puisi Jawa Tengah dari membeli buku di pasar Johar. Kemudian ia belajar terus-menerus hingga menggeluti bidangnya di puisi. Dengan demikian, Wiwid lebih tertarik dengan mengkritik puisi yang berjudul “Selir Musim Panas”. Menurutnya kumpulan kata-katanya sangatlah menarik dan bermakna. Hal tersebut dilandasi dengan sulitnya menjadi penyair. Wiwid berpendapat bahwa ia bangga dengan Bapak Triyanto karena karya-karyanya sangat patut untuk dijadikan sebagai contoh karya sastra yang pattut untuk dijadikan inspirasi dan di lestarikan.
Kesimpulanya adalah bahwa Ketiga kritikus tersebut sangat bangga dengan hasil karya sastra Bapak Triyanto yang memang sangat menginspirasi generasi muda seperti saya untuk terus berkarya dengan mencontoh karya-karya Bapak Triyanto Tri Wikromo yang sanagat bagus-bagus dan berbobot. Triyanto juga berjuang untuk membuktikan karya-karyanya dengab waktu yang sangat panjang yaitu dengan 30 tahun berkarya tanpa henti dan tanpa putus asa.
Pak Harjito juga mengajuakan pertanyaan-pertanyaan kepada Bapak Triyanto Tri Wikromo dengan pertanyaan yang meneurut saya bagus. Pertanyaanya ayang diajukan adlah “Apasih kerenya jadi seorang penulis?” oetanyaan yang simpel dan dijawab dengan simple saja oleh baoak Triyabto Tri Wikromo. Menjadi seorang penulis tidaklah keren, dan dia juga mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Univrsitas PGRI Semarang yang sudah menggelar acara yang sebagus ini yang menjadikanya merinding. Dia juga mencurahkanisi hatinya dia Triyanto mengawali karirnya dengan membuat salah satu hasil karyanya bercerita tentang pembunuhan , isi dari karyanya yaitu masuk ke sebuah jalan yang tidak begitu mewah. Jalan kesusastraan bukanlah jalan yang mewah. Kita semua berlomba-lomba menulis kebaikan manusia. Masih banyak mimpi-mimpi, hal-hal yang belum terselesaikan karena kehidupan kita banyak persoalan. Jika bunuh diri menjadi agama yang paling cocok, siapakah TuhanMu? Itu yang di bicarakan oleh Triyanto Tri Wikromo.
Puncak acara diakhiri dengan hiburan dari bisciut time yang bagus. Dan ini merupakan puncak akhir dari acara bedah sebut terbilang sangatlah sukses dengan adanya Mahasiswa beserta dosen-dosen yang sudah menghadiri peringatan dan kemeriahan Bulan Bahasa. Acara berlangsung dengan meriah dan membuat kita tercengau saat melihatnya, acara ini juga memiliki pesan tersendiri bahwa kita generasi muda harus selalu menjungjung tinggi bahsa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan ter melestarikan bahasa Indonesia dan teruslah berkarya untuk negeri. Dan semoga tahun depan semakin meninggakat dan meriah lagi untuk menyambut dan merayakan Bulan Bahasa.