Saya adalah putri ke tiga dari empat bersaudara, nama saya Rio Tri Astuti saya lahir di kota beribadat orang biasa menyebut tepatnya di Kabupaten Kendal, 15 Agustus 1996. Ayah saya bernama Sumarno dan Ibu saya bernama Sumiyati. Saya tinggal di desa yag berdekatan dengan kota Semarang, lebih jelasnya di desa Meteseh dusun Sasak RT 01 RW 06 Kec. Boja Kab. Kendal. Saya memiliki dua kakak laki-laki dan satu adek perempuan, dua kakak laki-laki saya sudah berumah tangga dan adik saya masih menempuh jenjang perguruan tinggi swasta di kota Semarang.
Sekilas info nama asli saya yang sebenarnya adalah Riau Tri Hastuti cerita panjang yang menjadikan nama saya seperti nama anak laki-laki banyak orang tua teman saya yang mengira saya adalah laki-laki. Pada intinya saya seorang Perempuan tulen, orang tua memberi mana saya dikarenakan ada cerita yang begitu penting tidak bisa dilupakan. Bapak dan ibu saya merantau di Provinsi Riau ketika ibu saya sedang mengandung saya, ketika dirantauan ada kejadian sial yang menimpa Bapak Saya. Orang tua Saya bukan pegawai beliau merupakan wiraswasta ketika di Riau tidak sengaja Bapak saya menebang pohon tanpa sengaja ada orang dibawah pohon dan menimpa beliau akhirnya meninggal seketika. Bapak saya di bawa kekantor polisi, berhuntungnya Bapak saya karena Ibu aaya mengandung saya akhirnya Polisi berbelaskasih kepada Bapak saya dan beliau tidak jadi di Penjara. Maka dari situlah Bapak Saya berpesaan entah saya laki-laki atau perempuan tetap di berinama Riau Tri Hastuti namun karena salah penulisan akta kelahiran jadi keliru menjadi Rio Tri Astuti karena dikira saya laki-laki.
Saat ini saya masih menjadi Mahasiswa aktif di Universitas PGRI Semarang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya Mahasiswa semester 7. Say alumni dari TK takbriatul Atfal 05 Meteseh saya duduk di bangku TK 2 tahun. Kemudian saya melanjutkan ke SD yang sangat dekat dengan rumah saya yaitu SDN 1 Meteseh saya setelah 6 taahun berlalu saya melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu di SMPN 2 Limbangan jarak tempuh kira” 25 menit dari rumah ke SMP karena beda kecamatan. Di SMP say hanya bertahan 3 tahun selanjutnya saya melanjutkan ke SMA favorit di daerah saya yaitu SMA N 1 Boja di SMA sayabmendapatkan pengalam pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Setelah 3 tahun berlalu selanjutnya saya ya masuk di Universitas Swasta di Semarang yaitu UPGRIS.
Rio Tri Astuti
Sabtu, 22 September 2018
Autobiografi RIO TRI ASTUTI tugas Menulis Kreatif
Selasa, 27 Desember 2016
Tanggapan mengenai Esai "Menimbang " Ketiadaan" UN (Rio Tri Astuti)
Rio Tri Astuti 15410215 3E PBSI
Saya setuju dengan adanya penghapusan Ujian Nasional. Ujian Nasional memang salah satu usaha pemerintah untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, akan tetapi Ujian Nasional malah membuat siswa ketakutan untuk menghadapi UN tersebut, karena mereka terbayang oleh rasa takut yang tinggi, peserta UN berfikir kenapa nasib Lulus atau Tidaknya di tentukan oleh UN. Maka dengan dihapusnya kebijakan ujian nasional , siswa tak terlalu terbebani untuk belajar yang melebihi proporsinya, toh selama ini ketika ujian nasional sudah dekat siswa dituntut untuk belajar ekstra. siswa harus mengorbankan hal yang cukup urgent untuk belajar dan belajar hanya demi target bisa lulus ujian nasional. Frekuensi belajar yang tidak lazim dan cenderung dipaksakan justru akan membuat pelajaran sulit untuk dipahami serta akan berdampak negatif terhadap psikologis siswa.
Bukan hanya peserta UN saja yang mengalami kegelisahan wali murid juga mengalami rasa gelisah karena nasib ke depan putra putrinya hanya di tentukan oleh UN. Nasib untuk mendapatkan sekolah selanjutnya di sekolah yang favorit akan di tentukan pula dengan nilai UN.
Dihapusnya UN juga menjadikan siswa lebih semangat untuk belajar, Dampak yang lain jika penyelenggaraan UN masih ada justru mengarah pada hal-hal yang ironis dengan tujuan pendidikan. Kecurangan terjadi di mana-mana, baik yang dilakukan oleh guru, sekolah, maupun siswa, atau bahkan yang lain. Biaya yang diperlukan sangat besar. Untuk tahun ini saja diperlukan Rp 543,45 miliar. Uang sebanyak ini dapat dialihkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau memperluas akses masyarakat miskin terhadap pendidikan. Maka dengan demikian saya sangat setuju jika UN di tiadakan di Indonesia atau dihapus tidak berarti standar pendidikan nasional tidak bisa dicapai pemerintah pasti juga memiliki solusi terbaik untuk nasib pendidikan di Indonesia ke depan.
Tanggapan Esai Ninik Hipayati(Rio Tri Astuti)
Nama: Rio Tri Astuti
Kelas : 3E PBSI
NPM : 15410215
Tanggapan Esai “Ninik Hidayati”
“JAKA TARUB dan MONOLOG BALADA SUMARAH”
Tanggapan mengenai esai Ninik Hidayati tentang pertunjukan teater Universitas PGRI Semarang yang mana teater tersebut mengangkat cerita rakyat Jawa Tengah yang sangat melegenda ya itu Jaka Tarub dan Monolog Balada yang berjudul Sumarah gadis cantik yang memiliki nasib sangat jelek .Cerita Jaka Tarub memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang menceritakan tentang kehidupan seorang laki-laki yang memiliki istri bidadari yang bernama Nawang Wulan dan putri semata wayangnya yang bernama Nawangsih. Sedangkan Sumarah merupakan gadis cantik yang berpendidikan akan tetapi memiliki latar belakang keluarga yang tidak yang baik namun sayang dimata tetangga dan dimata pemerintah Sumarah sangat di benci Karen mereka menganggap bahwa Sumarah merupakan anak dari seorang anggota PKI walaupun sebenarnya bukan bagian Dari anggota PKI karena ayah Sumarah hanya lah seorang penyetok gula untuk anggota PKI.
Mengenai esai Ninik Hidayati yang berhubungan dengan pertunjukan teater, esai yang dibuat sudah sesuai dengan apa yang dilihat. Ninik sudah menjelaskan secara runtut dari pertama pertunjukan teater di mulai hingga akhir teater selesai. Yang mana dia juga menuliskan tanggapan Penonton dari pentas teater yang mana dihadiri oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan pelajar dari SMA 1 Bringsing Batang yang mana juga ikut berpartisipasi di dalam teater ini.
Bukan hanya itu saja Ninik Hidayati juga Sudan menjelaskan tentang kondisi atau keadaan ruangan yang disiapkan oleh panitia pentas teater, dari keadaan lampu yang menyala yang mana terlihat sangat bagus baik dari background kain yang berwarna hitam dihiasi gambar bulan purnama dan pohon-pohon yang berdiri gagah. Ditambah lagi dengan rumah yang terbuat dari bambu dan jerami seperti gubuk sawah. Dan juga lebih menarik memang karena rumah tersebut sudah menggambarkan tempat tinggal orang desa, lampu LID yang yang bagus untuk menambah suasana lebih kelihatan hidup. Iringan alunan musik Jawa menambah suasana lebih menarik dan penonton tidak jenuh. Selain itu Ninik juga menjelaskan tentang keadaan penonton yang terdiam sejenak menyaksikan pentas teater.
Selanjutnya Ninik juga menjelaskan tentang alur cerita yang sesuai dengan cerita Jaka Tarub yang dipentaskan. Walaupun yang di pentaskan terdapat alur cerita yang berbeda dari cerita aslinya yang mana dimulai dari kemunculan seorang laki-laki separuh baya sedang beristirahat di atas anyaman kayu tiba-tiba didatangi anak perempuannya. Secangkir air putih mampu melegakan pikiran laki-laki separuh baya dari sebuah rahasia. Tak terkecuali gadis remaja ini merasa penasaran. Laki-laki separuh baya masih mengenang masa mudanya karena anak perempuannya selalu bertanya. Awal cerita yang cukup menarik karena biasanya karakter tokoh Jaka Tarub disuguhkan langsung menjadi muda. Akan tetapi, dalam teater ini karakternya sudah disusun menjadi tua. Sedetail itu Ninik menceritakan ulang pementasan teater.
Tidak hanya awalnya saja esai yang dibuat Ninik juga menceritakan kelanjutan ceritanya yang mana ketika Jaka Tarub masih mudah dan saat dia di goda oleh sahabatnya. Jaka Tarub dan temannya duduk bersantai di atas kursi bambu yang dianyam, dalam percakapannya Jaka menceritakan mimpinya ingin mendapatkan istri seorang bidadari. Teman Jaka Tarub pun tertawa terbahak-bahak dengan apa yang di ceritakan oleh Jaka Tarub. Lalu kemudian teman Jaka Tarub tersebut menyanggah percakapan tersebut karena ia bilang kepada Jaka “Ora mungkin Jak, awake dewe kan wong ndeso arep entuk bojo bidadari kui jenenge ngimpi.” Jaka tidak menanggapi komentar dari teman desanya tersebut.
Tak hanya itu kemudian Ninik juga menceritakan apa yang selanjutnya di lakukan oleh Jaka yang mana Jaka Tarub bergegas pergi menuju suatu hutan untuk berniataan berburu. Namun tanpa disengaja dan jauh dari pemikirannya , dia dipertemukan dengan 7 perempuan yang berperan sebagai bidadari. Bukan hanya itu saja Ninik juga menceritakan tentang menariknya panggung dan kekompakan para pemain tersebut. Panggung yang disusun oleh panitia, yang mana disusun rapi menjadi tangga yang diibaratkan lantai paling atas yaitu kayangan dan lantai paling bawah bumi. Serta kekompakan mereka ketika ada salah satu yang berperan sebagai bidadari saat turun dari tangga ada yang terjatuh, para pemain teater bisa menutupi kecelakaan kecil tersebut, dengan membantu walaupun tidak ada dalam skenario naskah teater.
Bukan hanya sampai situ saja Ninik juga masih menjelaskan tenang kelanjutan cerita drama teater. Yang mana cerita selanjutnya yang menjadi khas yaitu selendang tersebut dikenakan para bidadari seolah-olah akan terbang. Penampilan, make-up, kostum, cara berbahasa, dan sikap diperankan ketujuh perempuan dengan maksimal agar mendapat tanggapan yang baik dari penontonnya. Bidadari itu lalu masuk di sebuah kolam. Tempatnya seperti kolam yang dikelilingi batu-batuan dan diisi dengan sebuah plastik berwarna putih. Ada alasannya jika diberikan plastik berukuran besar berwarna putih. Artinya warna putih atau jernih merupakan ciri dari air itu sendiri. Sedangkan berukuran besar karena terdengar gemercik air yang diandaikan suara plastik. Sangat mendetail sekali ulasan esai yang di sampaikan oleh Ninik, dengan begitu esainya sangat lengkap. Bukan hanya sampai situ saja Ninik juga menjelaskan kelanjutan ceritanya.
Jaka Tarub ternyata bersembunyi di belakang batu besar untuk mengintip apa yang dilakukan oleh para bidadari dan bertujuan untuk mengambil selendangnya. Dari salah satu 7 bidadari memang benar kehilangan selendangnya. Bidadari tersebut bernama Nawang Wulan yang mana dalam cerita tersebut bidadari tersebut kebingungan dan sedih , karena dia tidak bisa pulang dan saudaranya pun meninggalkan Nawang Wulan sendirian walaupun adik-adiknya merasa kasihan , karena mereka sudah mencarinya tetapi tidak ditemukan. Dengan besar hati terpaksa Nawang meminta kepada adik-adiknya untuk segera kembali ke kayangan.
Kemudian di sungai itu Nawang begitu bersedih, bingung apa yang harus ia lakukan. Nawang membuat sebuah sayembara. Tidak lama kemudian Jaka menemui Nawang yang masih berendam di dalam sungai. Jaka lalu berupaya untuk memberi pakaian agar segera dikenakan Nawang Wulan. Mereka lalu berbincang-bincang, akhirnya Jaka menagih sebuah sayembara yang didengarnya. Nawang Wulan menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka Tarub.
Ninik juga menceritakan sambungan cerita yang mana di dalam cerita sebenarnya tidak ada dia tokoh ini tidak ada namun ini di tunjukan ke penonton untuk ceritanya lebih menarik. Dua tokoh tersebut yang bernama Topo dan Tomo. Dua laki-laki itu tiba-tiba mencalonkan diri sebagai lurah. Kemunculan mereka berdua membuat penonton semakin ramai dengan lawakannya. Mangkin kehadiran mereka berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang sedang hamil. Kisah tersebut kembali berproses ketika anaknya ditinggal ibunya ke kayangan akibat kebohongan Jaka Tarub. Lalu berlanjut anak Jaka Tarub tumbuh menjadi remaja. Itu menurut esai yang dituliskan oleh Ninik Hidayati.
Serta Ninik juga menjelaksan Akhir cerita yang mana kembali ke akur cerita yang pertama yang mana mengulang awal cerita ketika Jaka Tarub sudah separuh baya. Bahasa yang digunakan dalam teater ini ada dua bahasa yaitu Jawa dan Indonesia. Bahasa tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi ketika para pemeran berdialog sesuai lawan bicaranya. Jadi dapat di simpulkan bahwa esai Ninik Hidayati sanggatlah sesuai dengan apa yang di pentaskan oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Bukan hanya itu saja Ninik juga menyampaikan pesan yang dapat di ambil dalam pementasan teater drama Jaka Tarub.
Minggu, 25 Desember 2016
Esai Jaka Tarub (Rio Tri Astuti)
Nama : Rio Tri Astuti
Kelas : 3E PBSI
NPM :15410215
ESAI
“JAKA TARUB”
Selasa (4/10), Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mementaskan Drama Jaka Tarub Dan Monolog Balada Sumarah di Gedung Pusat lantai 7. Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi. Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub merupakan serial drama yang menceritakan tentang hidup seorang laki-laki muda yang di tinggal mati oleh Ibu kandungnya. Saat bulan purnama yang mana Jaka Tarub saat tiduran di bangku rumah, Jaka Tarub bermimpi tentang masa lalunya, Jaka Tarub berteriak dan Nawangsih pun mendengar suara ayahnya yang terdengar sangat kencang. Jaka Tarub di tanya oleh Nawangsih putri semata wayangnya, Nawangsih pun juga bertanya kapan dia bertemu dengan ibunya. Jaka Tarub pun menceritakan tentang istrinya.
Pada zaman dahulu Jaka Tarub saat usianya masih muda Jaka Tarub sangat kebingungan karena ia di beri amanah yang lumayan besar oleh Ibunya, yang mana amanatnya adalah ia harus menikah dengan seorang bidadari itulah salah satu pesan yang sangat menjadi beban Jaka Tarub. Namun karena amanat yang mungkin di anggap konyol tersebut, Jaka Tarub di ejek oleh temanya yaitu kang Bono. Kang Bono berpendapat ke Jaka Tarub bahwa amanah ibunya itu sanggatlah konyol karena tidak akan mungkin ada Bidadari, karena semua itu hanya ada di dalam dunia khayal. Akan tetapi Jaka Tarub masih pusing dengan masalah itu karena dia juga berfikir apakah semua pesan ibunya itu bakal terwujud karena menikah dengan seorang bidadari hanya ada dalam dongeng semata, karena itu Jaka Tarub memutuskan untuk berburu ke hutan.
Akan tapi entah apa yang terjadi Jaka Tarub bisa melihat 7 bidadari yang sangat cantik-cantik, yang turun dari langit Jaka Tarub sangat terkejut karena bidadari yang mungkin hanya ada dalam khayalan semata namun kini menjadi kenyataan. Jaka Tarub sangat bahagia melihat bidadari cantik-cantik yang lagi mandi di sungai itu, Jaka Tarub mengintip bidadari yang lagi mandi itu, Jaka Tarub juga memiliki pikiran untuk mengambil selendang yang di miliki oleh salah satu bidadari yang sangat cantik-cantik itu. Selang beberapa lama bidadari Cantik itu berniataan untuk menyudahi mandinya karena matahari sudah menujukan mulai terbenam, bidadari cantik-cantik itu lalu naik ke atas sungai untuk mengambil pakaiannya dan berganti pakaian serta memakai selendangnya untuk kembali ke kayangan. Akan tetapi karena Jaka Tarub sudah mengambil selendang dari salah satu bidadari Cantik itu. Dan akhirnya bidadari yang selendangnya di ambil oleh Jaka Tarub di tinggalkan oleh adik-adiknya, nama bidadari yang menjadi korban Jaka Tarub adalah Nawang Wulan. Dari 7 bidadari cantik-cantik itu Nawang Wulan merupakan bidadari urutan pertama.
Nawang Wulan pun bingung mau berbuat apa, karena dia sudah di tinggal oleh adik-adiknya. Nawang Wulan pun berjanji apabila ada seseorang yang menemukan selendang dan pakaiannya, apabila yang menemukan perempuan akan di jadikan saudara sedang kan apabila yang menemukan laki-laki akan di jadikan suaminya. Jaka Tarub yang bersembunyi di balik bebatuan dan semak-semak pun mendengar apa yang dibicarakan Nawang Wulan dan Jaka Tarub berlarian untuk pulang mengambil baju sepeninggalan Ibunya, yang mana Jaka Tarub berniataan membawa baju itu ke Sungai untuk di berikan ke Nawang Wulan dan menyuruh Nawang Wulan memakai pakaian yang berwarna hitam peninggalan Ibu Jaka Tarub tersebut. Jaka Tarub pun berlarian until kembali ke Sungai untuk menemui Nawang Wulan yang sendirian di sungai tersebut , Jaka Tarub menemui Nawang Wulan dan mengajak berbicara, Jaka Tarub bertanya ke Nawang Wulan,
Jaka Tarub:" siapa nama kamu dan apakah yang kamu bicarakan tadi itu benar..??"
Nawang Wulan:".. nama saya Nawang Wulan, iya saya akan penuhi janji saya..!! Kamu sendiri siapa dan kenapa kamu ada disini.?"
Jaka Tarub:" Nama saya Jaka Tarub, saya disini sedang berburu." Apa yang sedang kamu lakukan disini..??
Nawang Wulan: " saya Bidadari dan saya di tinggal oleh adik-adik saya, karena pakaian dan selendang saya hilang, jadi saya tidak bisa pulang ke Kayangan."
Jaka Tarub pun menyuruh Nawang Wulan untuk memakai pakaian sepeninggalan ibunya untuk di pakai Nawang Wulan. Nawang Wulan pun menerima tawaran Jaka Tarub untuk memakai pakaiannya, Jaka Tarub juga mengajak Nawang Wulan untuk pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sungai di tengah-tengah hutan tersebut. Jaka Tarub dan Nawang Wulan menikah.
Di desa tempat tinggal Jaka Tarub ada dua calon lurah yaitu bernama Topo dan Tomo, dua calon kepala desa ini memiliki karakter yang berbeda-beda Topo memiliki pemikiran yang lumayan lebih pintar dari Tomo akan tetapi Topo bersifat sombong. Sedangkan Tomo memiliki sifat yang sangat beda dengan Topo. Dua calon kepala desa ini memiliki postur badan yang hampir sama, sama-sama besar akan tetapi lebih besar Tomo dibandingkan Topo. Calon kepala desa ini sanggatlah lucu dalam caranya untuk mempromosikan sebagai calon kepala desa.
Satu tahun kemudian setalah menikah Nawang Wulan pun hamil, Jaka Tarub yang baru pulang dari ladang sangat bahagia saat melihat istrinya Nawang Wulan duduk di depan gubuk reot rumah Jaka Tarub, Jaka berharap anaknya untuk segera keluar dari perut istrinya itu, Jaka Tarub berencana memberi nama anaknya jikalau laki-laki Jaka Tarub ingin memberi nama Jaka Utama sedangkan jika anaknya perempuan ingin di beri nama Nawangsih, Nawang Wulan pun sangat menyukai usulan nama dari suaminya. Tak lama setelah Jaka Tarub dan Nawang Wulan masuk ke dalam rumah, Nawang pun merasakan rasa sakit perutnya karena bayi yang di dalam perutnya akan keluar. Jaka Tarub pun kebingungan akhirnya dia memanggil dukun bayi yang bernama mbok Ni, tak lama kemudian bayinya keluar dan berjenis kelamin perempuan dan seperti yang di rencanakan sebelumnya, nama anak Jaka Tarub yaitu Nawangsih.
Jaka Tarub Dan Nawang Wulan pun sangat bahagia, dengan bertambahnya anggota keluarga kecilnya. Jaka Tarub yang merasa kebingungan kenapa lumbung padi di rumahnya kian lama kian banyak bukan, malah habis. Karena cucian di rumahnya banyak Nawang Wulan pun pergi ke sungai Dan menitipkan Nawangsih ke Jaka Tarub, Nawang Wulan juga berpesan jika dia sedang menanak nasi dan jangan sampai dibuka, namun karena Jaka Tarub penasaran dengan pesan istrinya kenapa kok dia tidak boleh membuka panci. Jaka Tarub pun membuka Dan dia kebingungan kenapa hanya ada sebatang padi bukan nasi. Jaka tarub berniat untuk menanyakan ke istrinya, sesampainya di rumah Jaka Tarub bertanya ke istrinya tentang kenapa ia memasak sebatang padi bukan beras. Istrinya pun menjawab dengan marah, Nawang pun marah besar karena ulah suaminya. Nawang menjelaskan bahwa kenapa tidak beli beras, sebatang padi bisa menjadi nasi. Jaka Tarub pun menyesal karena ia tidak menepati janjinya serta ia lupa bahwa istrinya bukan manusia biasa melainkan seorang bidadari. Nawang Wulan pun masuk ke dalam rumah, dan tanpa sengaja selendang Nawang Wulan yang diambil Jaka Tarub di temukan oleh Nawang Wulan. Nawang Wulan pun marah besar dan Nawang kembali ke kayangan. Jaka Tarub pun tidak bisa apa-apa karena telan istrinya sudah bertekat bulat. Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub untuk di sampaikan kepada anaknya kelak, jika ingin bertemu Nawang Wulan maka, Nawangsih harus datang ke sungai dimalam saat bulan purnama. Maka Nawang sih akan bertemu ibunya.
Amanat yang di bisa diambil dalam drama cerita rakyat Jaka Tarub adalah. Jangan pernah berbohong walaupun kebohongan itu berniataan untuk hal kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain, karena kebohongan sekecil apapun hasilnya akan menimpa diri kita sendiri. Dan menjadikan diri kita dijauhi oleh orang yang kita sayang, dan kita tidak mungkin di percaya oleh orang lain.
Sabtu, 24 Desember 2016
UPGRIS Bersastra
Nama :Rio Tri Astuti
Kelas : 15410215
NPM : 3E PBSI
UPGRIS BERSASTRA
Bulan bahasa merupakan momen yang di tunggu-tunggu oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Bukan bahasa jatuh pada bulan Oktober lebih tepatnya pada tanggal28 Oktober, namun yang menjadi kebanggaanuntuk membuka peringatan bukan bahasa tersebutUniversitas PGRI Semarang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah,yang tidak kalah dengan perguruan tinggi Negeri, Tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menggelar acara yang sangat megah untuk menyambut bulan bahasa acara berlangsung di Balairung UPGRIS. UPGRIS menggelar acara di Balairung yang mana acara tersebut mengambil tema UPGRIS bersastra. Acara yang berlangsung sangat lah menakjubkan, salah satunya sastrawan muda Indonesia yaitu Triyanto Tri Wikromo. Acara yang berlangsungbertemakan UPGRIS Bersastra dengan 1 Pengarang 3 Buku, Pembaca, Kritikus.
Penyelenggara acara ini sangat istimewa, serial musik bicuittimeikut serta untuk menambah suasana acara lebih menarik. Acara di buka pukul 09.00 WIB di pandu oleh Ibu Diah,dan acara yang meriah ini di resmikan dan dibuka oleh Rektor UPGRIS Bapak Muhdi S.H.,M.Hum.cara sangat menarik dan spektakuler. Pembawa acara membuka acara dengan menyambut semua yang hadir di dalam balairung. Bukan Rektor saja semua Dosen juga ikut berpartisipasi di dalamnya khususnya Dosen FPBS.
Hiburan yang menari juga di tampilkan yaitu Tarian klasik satu pasangan Wanita dan laki-laki pun juga sangat menarik hati penonton, karena mereka menarikan dengan indah, romantis karena didukung dengan lampuleting yang bagus, penonton pun terhipnotis dengan apa yang di pentaskan oleh Mahasiswa dan Mahasiswi UPGRIS.
TujuhMahasiswi yang membacakan puisi dengan pelafalan dan nada pembacaan yang tidak jelas yang manapara penikmat tidak maksud dengan apa yang disampaikan. Karena saat pembacaan Dari awal sampai akhir pelafalannya sangat monoton dan menjadikan Mahasiswa dan Mahasiswi sibuk dan berisik dengan sendirinya karena membosankan.
Masih dengan suasana yang meriah, di tambah lagi dengan pembacaan puisi yang di tambah dengan tarian tradisional yang sangat meriah, tarian tersebut di tarikan oleh 4 penari Wanita Dan 1 penari laki-laki. Dalam pementasan pembacaan puisi dan tarian tradisional yang di sutradarai oleh Wawan Coret. Ibu Asrofah selaku Dekan UPGRIS juga memberikan selamat kepada Mahasiswa-Mahasiswi yang berani dan ikut berperan dalam acara UPGRIS Bersastra yang mana sudah menampilkan kreasi yang sangat menakjubkan
Acara yang berlangsung sangat lah meriah karena di hadiri oleh sang penyair puisi yang terkenal yaitu Triyanto Tri Wikromo, dia merupakan sosoksastrawan yang melegenda dan memiliki karya yang sudah dibukukan sangat banyak, beliau merupakan sang Maestro muda yang menjadi inspirasi para penikmat dan pengarang karya-karya sastra.
Memasuki acara inti yaitu Bedah Buku yang sangat ditunggu-tunggu. Langsung saja pemandu acara Ibu Diah memberikan waktu untuk Dr.Harjito S.Pd.,M.Pd. untuk memoderatori, Bedah Buku dihadiri oleh Bapak Nur Hidayat untuk kritikus satu, Bapak Prastyo Utomo untuk kritikus dua, dan Sastrawan Muda BapakWidyanuari Eko Putro. Tiga kritikus penting akan membahas tentang karya-karya yang di miliki oleh Triyanto Tri Wikromo sang maestro muda. Namun sebelum acara Bedah Buku dimulai Moderator memohon kepada Rektor UPGRIS untuk ikut menambahkan suasana menjadi ramai dengan menantang Bapak Muhdi untuk membacakan puisi karya Triyanto Tri Wokromo. Rektor UPGRIS membaca puisi dengan judul“Takziah”, namun demikian sebelum membacakan puisi, tidak di duga ternyata Rektor UPGRIS menunjukkan bakat terpendamnya yang mana dia pandai bermain alat musik Gitar, Rektor menyanyi dengan suara yang bagus Rektor berkata bahwa beliau mengenang dan bernostalgia akan masa lalunya saat duduk dibangku SMA ketika dia dan teman-temanya hobi bermain gitar.Melanjutkan pembacaan Puisinya Rektor membaca puisi yang Berjudul “Takziah” tersebut dengan lantang walaupun tidak begitu bagus. Rektor UPGRIS menjelaskan kenapa dia memilih Puisi karya Triyanto Tri Wikromo Dengan Judul “Takziah”, karena dia berpikiran bahwa akhir-akhir banyak orang meninggal dunia dengan mendadak. Beliau juga menceritakan tentang meninggalnya teman dekatnya, bahwa teman dekatnya tersebut meninggal dengan mendadak, dan dia juga berpesan untuk semua Mahasiswa dan Mahasiswi untuk selalu berbuat baik, karena Rizki, Jodoh dan Maut itu merupakan rahasia Tuhan. Tidak hannya Rektor saja, wakil Rektor 1 UPGRIS Ibu Suci pun turut andil dengan membaca puisi karya Triyanto Tri Wikromo dengan judul “Selir Panas” Sebelum membaca Ibu Suci memanggil Erda Mahasiswi Prodi PBI untuk menemaninya saat membacakan puisi.
Usai Rektor dan Wakil Rektor 1 menunjukkankebolehannya , Bapak Harjito selaku Moderator mempersilahkan Kritikus pertama untuk memulai acara inti yaitu Bapak Nur Hidayat, yang mama Pak Nur Hidayat mamenekankan jika hasil dari beberapa karya Bapak Triyanto memang sulit untuk di pahami apabila hanya membaca karaya Triybto Tri Wikromo dengan setengah-tengah saja. Karya sastranya menunjukkan tidak semua orang paham dengan apa yang ia tuliskan. Bapak Nur Hidayat menilai dengan adanya karya sastra Bapak Triyanto, kualitasnya begitu tinggi dan sulit.
Selanjutnya Kritikus yang kedua yaitu Bapak Prasetyo Utomo. Beliau berkomentar hampir sama dengan yang di komen oleh kritikus pertmaakan tetapi yang di kritik oleh kritikus keduan lebih menjurus ke cerpen karya Bapak Triyanto. Menurut Bapak Prasetyo, cerpen Triyanto juga sangat sulit dipahami oleh pembaca. Dalam penulisan cerpen Triyanto menggunakan teori struktualisme yaitu teori membaca yang membutuhkan metode-metode tertentu secara bertahap. Cerpen-cerpennya hampir serupa dengan Ismail yang menggunakan 3 unsur. 3 unsur tersebut yaitu tokoh, latar, dan alur. Sebagian cerpen Triyanto memiliki 3 unsur yang mewakilinya. Maka tidak heran jika karyanya setiap tahun selalu masuk di koran kompas. Hal ini terbukti ketika salah satu judul buku “Bersepeda ke Neraka” dipertaruhkan dalam ajang tertentu.
Selanjutnya kritikus ketiga yaitu Widyanuari Eko Putro yang lebih mengkritik dalam bidang puisi. Wiwid memang baru mengenal teks Bapak Triyanto tahun 2009 hingga saat ini. Ia pertama kali mendapat antologi puisi Jawa Tengah dari membeli buku di pasar Johar. Kemudian ia belajar terus-menerus hingga menggeluti bidangnya di puisi. Dengan demikian, Wiwid lebih tertarik dengan mengkritik puisi yang berjudul “Selir Musim Panas”. Menurutnya kumpulan kata-katanya sangatlah menarik dan bermakna. Hal tersebut dilandasi dengan sulitnya menjadi penyair. Wiwid berpendapat bahwa ia bangga dengan Bapak Triyanto karena karya-karyanya sangat patut untuk dijadikan sebagai contoh karya sastra yang pattut untuk dijadikan inspirasi dan di lestarikan.
Kesimpulanya adalah bahwa Ketiga kritikus tersebut sangat bangga dengan hasil karya sastra Bapak Triyanto yang memang sangat menginspirasi generasi muda seperti saya untuk terus berkarya dengan mencontoh karya-karya Bapak Triyanto Tri Wikromo yang sanagat bagus-bagus dan berbobot. Triyanto juga berjuang untuk membuktikan karya-karyanya dengab waktu yang sangat panjang yaitu dengan 30 tahun berkarya tanpa henti dan tanpa putus asa.
Pak Harjito juga mengajuakan pertanyaan-pertanyaan kepada Bapak Triyanto Tri Wikromo dengan pertanyaan yang meneurut saya bagus. Pertanyaanya ayang diajukan adlah “Apasih kerenya jadi seorang penulis?” oetanyaan yang simpel dan dijawab dengan simple saja oleh baoak Triyabto Tri Wikromo. Menjadi seorang penulis tidaklah keren, dan dia juga mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Univrsitas PGRI Semarang yang sudah menggelar acara yang sebagus ini yang menjadikanya merinding. Dia juga mencurahkanisi hatinya dia Triyanto mengawali karirnya dengan membuat salah satu hasil karyanya bercerita tentang pembunuhan , isi dari karyanya yaitu masuk ke sebuah jalan yang tidak begitu mewah. Jalan kesusastraan bukanlah jalan yang mewah. Kita semua berlomba-lomba menulis kebaikan manusia. Masih banyak mimpi-mimpi, hal-hal yang belum terselesaikan karena kehidupan kita banyak persoalan. Jika bunuh diri menjadi agama yang paling cocok, siapakah TuhanMu? Itu yang di bicarakan oleh Triyanto Tri Wikromo.
Puncak acara diakhiri dengan hiburan dari bisciut time yang bagus. Dan ini merupakan puncak akhir dari acara bedah sebut terbilang sangatlah sukses dengan adanya Mahasiswa beserta dosen-dosen yang sudah menghadiri peringatan dan kemeriahan Bulan Bahasa. Acara berlangsung dengan meriah dan membuat kita tercengau saat melihatnya, acara ini juga memiliki pesan tersendiri bahwa kita generasi muda harus selalu menjungjung tinggi bahsa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan ter melestarikan bahasa Indonesia dan teruslah berkarya untuk negeri. Dan semoga tahun depan semakin meninggakat dan meriah lagi untuk menyambut dan merayakan Bulan Bahasa.